Diduga sedikit lahan kebun Sawit seluas kurang lebih”3000 Ha.dalam kawasan hutan, diurus ke kementerian, KLHK Berdasarkan UUCK.

 

Riau,- Bongkarkasusmmntv.com,-
Selasa 20-06-2023
Tentang dugaan kebun sawit dalam kawasan hutan dan terkait gagalnya tanaman reboisasi di bawah tanaman kebun sawit dalam kawasan hutan, di lokasi desa sungai besar, kecamatan pucuk rantau, kabupaten Kuantan Singingi, provinsi Riau.

Beberapa narasumber mengatakan kepada awak media, bahkan sebelumnya kebun sawit dalam kawasan hutan ini sudah sering diberitakan oleh awak media ini inisial athia.

Beliau saat itu masih mantan kades desa sungai besar, dan saat ini caleg DPRD Kuansing, partai Nasdem.
Naikkan lah kasus kebun sawit dalam kawasan hutan ini”, ujar narasumber.

“Dalam luas lebih kurang 800 hektar..
Termasuk lahan kebun sawit Abdul Halim/personalia kebun cina itu, kebun sawit sarial/humas kebun itu dan Awalnya itu kawasan hutan lindung kurang lebih 800 hektar, saat menjabat kades oknum (Sarial) kades sungai besar pada tahun (2007-2013), disuruhnya kelompok masyarakat menebang kayu sejak tahun (2011-2013) dengan cara bayar uang tumbang dan selain itu beliau akan berikan 20 hektar buat masyarakat desa ini” ternyata tidak ada diberikannya”, tambahnya.

“Sesudah menjadi kebun sawit atas nama kelompok masyarakat, mantan kades (Sarial) lalu menjual kepada oknum Cina (athurbrown) dan kebun itu 80 hektar yang menjadi milik mantan kades Sarial, sudah dibuat surat jual beli antara mereka.
Mohon diberitakan agar masyarakat mengetahui hal ini, di mana yang 20 hektar yang beliau janjikan ke masyarakat desa ini” keluhnya.

Narasumber yang berbeda, terkait kronologis kebun sawit kawasan hutan ini menjelaskan:
Desa sungai besar ini
Sudah diajukan ke (KLHK) kementerian kehutanan dan lingkungan hidup, dan sudah diurus melalui UUCK buat masyarakat desa ini.

lanjutnya:
Sebelumnya rata-rata disuruh berkelompok dan kebun Cina itu setauku milik oknum cina (athur brown), dengar-dengar dijual ke oknum Cina juga orang Pekanbaru, menurut informasi insial (Hery) dan sekarang sudah dikelompokkan Tidak satu orang nama pemilik, termasuk mantan kades (Sarial) ketua kelompoknya, luas nya bisa lebih 445 hektar, dan 20 hektar ke bawah rata-rata per orang di buatnya melalui kelompok, begitu polanya melalui UUCK mengajukan ke KLHK”jelasnya.

Lanjutnya, beda lagi dengan kebun sawit melona milik (H.Ramadi Melki), terkait tanaman reboisasi 300 batang itu, memang mencapai miliaran dana nya, tapi sudah dikerjakan masyarakat melalui kelompok reboisasi.
Soal gagalnya tanaman reboisasi tersebut di duga karena ditanam di bawah kebun sawit.

“Katakan lah karena H.ramadi melki menyalahi aturan karena beliau tanam kebun sawit dalam kawasan hutan itu, kalau memang itu harusnya ditumbang dulu kebun sawit, baru tanam reboisasi, sedangkan yang mengajukan tanaman reboisasi tersebut dari pihak kehutanan, tidak mungkin H.Rama Melki sedangkan sawitnya sudah kian ada dalam kawasan hutan tersebut” pungkasnya.

Selama awak media insial (athia) melalui SMS WhatsApp mengkonfirmasi ke Mantan kades Sarial/humas:
Enggak apa-apa tapi bapak punya usul kita hadirkan Kadus Dedi supaya silaturahmi kita lebih baik kedepannya, Namun mencapai seminggu sampai tertayang berita ini belum ada hasil klarifikasi oleh beliau.

Penulis. Athia Diduga sedikit kurang 3000 Ha kebun sawit dalam kawasan hutan diurus ke kementerian, KLHK Berdasarkan UUCK.

Riau,- Bongkarkasusmmntv.com,-
Selasa 20-06-2023
Tentang dugaan kebun sawit dalam kawasan hutan dan terkait gagalnya tanaman reboisasi di bawah tanaman kebun sawit dalam kawasan hutan, di lokasi desa sungai besar, kecamatan pucuk rantau, kabupaten Kuantan Singingi, provinsi Riau.

Beberapa narasumber mengatakan kepada awak media, bahkan sebelumnya kebun sawit dalam kawasan hutan ini sudah sering diberitakan oleh awak media ini inisial athia.

Beliau saat itu masih mantan kades desa sungai besar, dan saat ini caleg DPRD Kuansing, Partai Nasdem,
Naikkan lah kasus kebun sawit dalam kawasan hutan ini”, ujar narasumber.

“Dalam luas lebih kurang 800 hektar..
Termasuk lahan kebun sawit Abdul Halim/personalia kebun cina itu, kebun sawit sarial/humas kebun itu dan Awalnya itu kawasan hutan lindung kurang lebih 800 hektar, saat menjabat kades oknum (Sarial) kades sungai besar pada tahun (2007-2013), disuruhnya kelompok masyarakat menebang kayu sejak tahun (2011-2013) dengan cara bayar uang tumbang dan selain itu beliau akan berikan 20 hektar buat masyarakat desa ini” ternyata tidak ada diberikannya”, tambahnya.

“Sesudah menjadi kebun sawit atas nama kelompok masyarakat, mantan kades (Sarial) lalu menjual kepada oknum Cina (athurbrown) dan kebun itu 80 hektar yang menjadi milik mantan kades Sarial, sudah dibuat surat jual beli antara mereka.
Mohon diberitakan agar masyarakat mengetahui hal ini, di mana yang 20 hektar yang beliau janjikan ke masyarakat desa ini” keluhnya.

Narasumber yang berbeda, terkait kronologis kebun sawit kawasan hutan ini menjelaskan:
Desa sungai besar ini
Sudah diajukan ke (KLHK) kementerian kehutanan dan lingkungan hidup, dan sudah diurus melalui UUCK buat masyarakat desa ini.

lanjutnya:
Sebelumnya rata-rata disuruh berkelompok dan kebun Cina itu setauku milik oknum cina (athur brown), dengar-dengar dijual ke oknum Cina juga Pekanbaru, menurut informasi insial (Hery) dan sekarang sudah dikelompokkan Tidak satu orang nama pemilik, termasuk mantan kades (Sarial) ketua kelompoknya, luas nya bisa lebih 445 hektar, dan 20 hektar ke bawah rata-rata per orang di buatnya melalui kelompok, begitu polanya melalui UUCK mengajukan ke KLHK”jelasnya.

Lanjutnya, beda lagi dengan kebun sawit melona milik (H.Ramadi Melki), terkait tanaman reboisasi 300 batang itu, memang mencapai miliaran dana nya, tapi sudah dikerjakan masyarakat melalui kelompok reboisasi.
Soal gagalnya tanaman reboisasi tersebut di duga karena ditanam di bawah kebun sawit.

“Katakan lah karena H.ramadi melki menyalahi aturan karena beliau tanam kebun sawit dalam kawasan hutan itu, kalau memang itu harusnya ditumbang dulu kebun sawit, baru tanam reboisasi, sedangkan yang mengajukan tanaman reboisasi tersebut dari pihak kehutanan, tidak mungkin H.Rama Melki sedangkan sawitnya sudah kian ada dalam kawasan hutan tersebut” pungkasnya.

Selama awak media insial (athia) melalui SMS WhatsApp mengkonfirmasi ke Mantan kades Sarial/humas:
Enggak apa-apa tapi bapak punya usul kita hadirkan Kadus Dedi supaya silaturahmi kita lebih baik kedepannya, Namun mencapai seminggu sampai tertayang berita ini belum ada klarifikasi oleh beliau.

    (Penulis. Athia)